Search

Archive for March, 2010

VoA Tiga Bulan belum Mendesak

Adanya harapan beberapa kalangan pariwisata di Bali kepada pemerintah pusat untuk dikeluarkannya Visa on Arrival (VoA) tiga bulan perlu disikapi dengan pikiran yang jernih. Ketua Asita Bali mengatakan, wisatawan tidak sepenuhnya memerlukan VoA tiga bulan.

Kebijakan pemerintah pusat hanya memberlakukan VoA satu bulan dengan biaya 25 dolar AS. Fasilitas VoA bisa dimanfaatkan wisatawan asing yang ingin berlibur ke Bali maupun ke kawasan Indonesia yang lain.

Wisatawan yang berlibur ke Bali tidak terpaku memiliki rentang waktu libur selama satu bulan. Ketika berada di Bali, wisatawan masih memiliki peluang untuk memperpanjang waktu liburannya. Mereka bisa lebih lama menginap di Bali asalkan mau mengurus perpanjangan visa kunjungan selama di Bali.

Sementara itu, awalnya wisatawan yang ingin berlibur ke Bali atau wilayah Indonesia wajib mengurus visa kunjungan di daerah asal mereka. Mereka bisa mengurus visa kunjungan di kedutaan Indonesia di negara asalnya masing-masing. Tahap awal, wisatawan mancanegara bisa mengurus visa kunjungan seperti ke Bali sampai jangka waktu 60 hari (2 bulan).

Wisatawan bisa memanfaatkan visa kunjungan selama 60 hari untuk berlibur di Bali. Rata-rata dengan waktu 60 hari cukup bagi wisatawan untuk mengelilingi Bali. Jika dalam jangka waktu 60 hari ini dipandang masih kurang, wisatawan ini masih bisa memperpanjang waktu liburannya di Bali. Pengurusan perpanjangan visa kunjungan ini bisa dilakukan di Kantor Imigrasi Denpasar.

Perpanjangan visa kunjungan ini bisa dilakukan dalam interval satu bulan (30 hari). Bahkan, wisatawan memiliki kesempatan untuk memperpanjang visa kunjungan tiap bulan sampai jangka waktu 6 bulan.

Dengan perpanjangan visa kunjungan sampai 6 bulan ini, cukup untuk wisatawan mengelilingi Bali maupun mengunjungi kawasan wisata lain di Indonesia.

Selain itu, perpanjangan visa kunjungan wisatawan ini cukup dilakukan di Bali tidak mesti kembali ke negara mereka. Untuk memperpanjang visa kunjungan ini wisatawan tentunya mesti mengikuti persyaratan dari kantor imigrasi.

Wisatawan Diarahkan ke Pura Besakih

Para pelaku pariwisata di Bali, merekomendasikan prosesi ritual Ida Batara Turun Kabeh di Pura Besakih menjadi bagian tour wisatawan asing maupun domestik selama berlibur di Bali. Kegiatan ritual umat Hindu tersebut dinilai akan memberikan tontonan menarik bagi wisatawan.

Ritual di Pura Besakih sudah diinformasikan kepada wisatawan melalui brosur promosi pariwisata, termasuk di media online. Wisatawan tinggal diarahkan mengunjungi proses berjalannya upacara sekaligus mengenalkan potensi pariwisata yang ada di desa tersebut.

Tidak sedikit tour leader dan biro perjalanan wisata yang memanfaatkan daya tarik ritual di Pura Besakih yang terletak di lereng kaki Gunung Agung, Karangasem, sebagai paket kunjungan rangkaian upacara Purnama Kedasa ini.

Wisatawan disarankan menggunakan pakaian adat sama dengan yang dikenakan masyarakat yang melakukan persembahyangan. Dengan begitu, wisatawan bisa berbaur dengan masyarakat lokal yang melakukan kegiatan.

Wisatawan yang diarahkan berkunjung ke Besakih tidak hanya menyaksikan masyarakat Hindu yang melakukan persembahyangan, mereka juga akan digiring ke sejumlah objek wisata yang ada di Karangasem.

Wisatawan juga akan diajak berkunjung ke Tirta Gangga atau melihat kebun salak yang ada di kawasan Desa Muncan, sekaligus proses pengembangbiakan. Tentunya paket tour yang kami tawarkan akan sangat menarik bagi mereka.

Keunikan dan kesakralan menawannya Pura Besakih selama ini tidak hanya dikagumi dan diakui umat Hindu di Tanah Air, namun juga sangat menarik wisatawan mancanegara. Terbukti, jumlah wisatawan yang datang terus bertambah, puluhan wisatawan asing yang menyaksikan ritual Ida Batara Turun Kabeh sebagian besar merupakan turis Eropa seperti Prancis dan Belanda.

Membludaknya umat Hindu yang bersembahyang ke Pura Besakih terkait perayaan tersebut akan menyedot perhatian banyak wisatawan asing.

Disesalkan, Pekerja Hotel Jadi ”Guide” Ilegal

Pekerjaan guiding tampaknya sebuah profesi yang cukup menggiurkan. Tak hanya warga asing saja yang kentara menjalani profesi tersebut, pekerja hotel pun kini dikeluhkan pramuwisata berlisensi marak menjadi guide ilegal yang bekerja tanpa mengantongi izin.

Sangat disesalkan kalau pekerja hotel sekarang ikut-ikutan jadi guide. Meski sudah sesuai aturan jika orang yang boleh menjadi pemandu wisata di Bali adalah orang lokal Bali sendiri, namun mereka yang secara sembunyi-sembunyi melakukan praktik guiding tanpa izin jelas-jelas merugikan guide yang berlisensi. Pramuwisata lainnya juga mengaku geram melihat tindak tanduk guide illegal ini di sejumlah objek wisata di Bali. Hal tersebut sempat dilaporkan kepada Disparda setempat, namun hingga kini belum ada tindakan.

Untuk mendapatkan sebuah lisensi memang tidak mudah. Para guide harus mengikuti beberapa tahapan seperti diwajibkan mengikuti pelatihan pramuwisata dari Disparda Bali dan HPI Bali. Sementara, mereka yang notabene tidak pernah mengikuti sertifikasi ikut berebut dengan guide berlisensi di lapangan. Jika tidak segera ditangani dengan cepat, kemungkinan guide-guide berlisensi tidak akan mau susah-susah mecari izin lagi.

Diharapkan, Pemprop Bali khususnya Disparda Bali dan HPI segera menyikapi masalah ini supaya para pemegang lisensi ( surat izin sejenis SIM) tidak merasa dirugikan. Keberadaan guide-guide yang tidak mengantongi izin guiding berpotensi merusak citra Bali di mata wisatawan. Pasalnya, mereka tidak menguasai budaya Bali jika menjelaskan soal budaya kepada turis kemungkinan terjadi kesalahan.

Syarat untuk menjadi guide khususnya di Bali, bukan hanya diharuskan warga lokal, tetapi juga harus mengikuti beberapa tahapan seperti diklat yang diselenggarakan Disparda Bali dan HPI Bali untuk mendapatkan lisensi atau surat izin. Jadi jika pemandu wisata beroperasi tanpa memiliki lisensi sama artinya dengan guide ilegal.

Dalam melakoni pekerjaannya sebagai guide bodong, pekerja hotel terlebih dahulu melakukan kesepakatan di luar jam kerja. Seperti berjanji akan mengantarkan tamu khususnya yang menginap di hotel di tempat mereka bekerja untuk mengunjungi objek wisata yang ada di Bali.

Namun ketika ditanya, pekerja hotel ini beralasan mengantarkan teman, meski sejatinya melakukan kegiatan.

Sesuai ketentuan Perda No. 10/1989 tentang pramuwisata, antara lain diatur tentang syarat minimum pendidikan pramuwisata yang disesuaikan dengan kebutuhan di masa depan, kewajiban mengikuti pelatihan pramuwisata dari Disparda Bali dan HPI Bali.

Kuta bisa Dijadikan Model Pembelajaran Pariwisata Budaya

Pengembangan pariwisata desa adat di Kuta, Badung, bisa dijadikan model pembelajaran bagi daerah lain di Indonesia yang berminat menjadikan modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata. Misalnnya studi banding yang dilakukan ke Desa Adat Kuta, akan memperoleh pengetahuan baru atau menambah wawasan tentang pariwisata yang berkembang seiring dinamika pariwisata global.

Kawasan wisata Kuta yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri yang berlibur ke Bali merupakan desa adat pertama dari 1.452 desa pakraman di Bali yang pariwisatanya berkembang pesat.

Bahkan, dalam pengembangan tersebut sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan terintegrasi dengan fasilitas peruntukan warga desa adat setempat untuk menggelar berbagai kegiatan adat dan ritual. Hasil studi banding itu diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan dalam mengembangkan pariwisata berlandaskan budaya sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Oleh sebab itu, penelitian tentang modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata perlu terus dilanjutkan, mengingat perubahan terjadi seirama perkembangan iptek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan dinamika pariwisata dunia. Selain itu, modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata di Kuta menunjukkan, kebudayaan telah menjadi propaganda pemerintah dan pengusaha pariwisata untuk mengajak masyarakat bisa menerima ideologi pasar yang penuh persaingan dan gaya hidup yang pragmatis.

Oleh sebab itu, kebudayaan tidak hanya sebagai pengarah yang menentukan dalam suatu masyarakat yang dipatuhi atau menjadi petunjuk arah dalam praktik yang berhubungan dengan religiusitas, namun menjadi modal promosi pariwisata bagi perjuangan kepentingan merebut keuntungan ekonomi pasar wisata.

Turun, Kualitas Wisman ke Bali

Setelah krisis global, kualitas sejumlah pasar potensial pariwisata Bali seperti Jepang dan Taiwan mengalami penurunan. Ketua Asita Bali mengungkapkan, hal itu ditunjukkan dengan turunnya angka kunjungan pasar tersebut dibarengi penurunan lama tinggal (lenght of stay) dan dana yang dihabiskan (spending money) selama berlibur di Bali yang merosot.
Imbas krisis global masih dirasakan sejumlah pasar seperti Jepang dan Taiwan ke Bali. Pertumbuhan ekonomi yang terganggu membuat mereka mempersingkat masa kunjungan dari rata-rata seminggu menjadi tiga hari.

Kendati demikian, adanya penurunan kualitas sejumlah pasar pariwisata, secara global tidak mempengaruhi pertumbuhan pariwisata Bali. Penurunan sejumlah pasar akan ditutupi oleh beberapa negara yang lama tinggal serta daya belinya masih tetap tinggi seperti Eropa dan Australia.

Jika krisis global dapat diatasi dengan tuntas, mutu sejumlah pasar yang mengalami penurunan akan kembali meningkat. Sebelumnya, adanya penurunan sejumlah pasar juga diakui Kadisparda Bali, dikatakan pergeseran sejumlah pasar potensial pariwisata Bali seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Jerman dinilai akibat krisis global yang berkepanjangan.

Perubahan pola pasar pariwisata Bali seperti peningkatan kunjungan Australia dan penurunan kunjungan Jepang terjadi akibat krisis global. Calon pengunjung lebih memilih berwisata ke destinasi yang tidak terlalu jauh short haul atau middle haul.

Modal Budaya Jadi Landasan Pariwisata Kuta

Modal budaya sebagai landasan pengembangan pariwisata Kuta, Badung, menjadikan unsur budaya wilayah desa adat (pakraman) setempat menjadi bagian dari budaya pariwisata global.

Kondisi demikian mengantarkan Desa Adat Kuta mendapat citra sebagai desa modern (global village) yang sangat dibanggakan dewasa ini oleh berbagai pihak. Dilakukan penelitian dan pengkajian tentang modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata di Desa Adat Kuta untuk meraih gelar doktor pada program Pascasarjana Universitas Udayana dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Fenomena globalisasi muncul seiring dengan kebanggaan masyarakat Desa Adat Kuta terhadap citra desa modern, seperti tercermin dalam kegiatan Kuta Karnival, aktivitas seni tahunan yang digelar masyarakat setempat.

Kegiatan seni budaya yang digelar secara berkesinambungan itu, menunjukkan adanya kebebasan wisatawan dari berbagai negara di belahan dunia untuk menikmati berbagai praktik budaya yang berkembang dan lestari di wilayah Desa Adat Kuta.

Kuta merupakan salah satu dari 1.453 desa adat di Bali yang mengalami perkembangan pariwisata sangat pesat, tercermin dalam makna modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata yang mampu memberikan makna inovatif, religius, pelestarian dan makna kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Pariwisata diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup warga desa adat setempat untuk terus melakukan inovasi terhadap modal budaya, supaya bisa menarik perhatian wisatawan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Kuta dan Bali pada umumnya.

Selain itu, mampu mengembangkan dan melestarikan modal budaya yang tidak lepas dari jati diri desa adat Kuta yang religius dari desakan pariwisata.

Pasar Seni Guwang Ramai Dikunjungi Wisdom

Pasar Seni Guwang yang terletak di Gianyar, tampaknya menjadi kawasan favorit wisatawan domestik (wisdom). Ini terbukti, 80 persen dari jumlah pengunjung ke pasar seni tersebut didominasi wisdom. Bahkan, dalam perayaan libur panjang jumlah mereka meningkat lebih dari 100 persen dibanding hari biasanya.

Banyaknya jumlah pengunjung domestik dibandingkan asing di Pasar Seni Guwang sudah terlihat sejak awal pasar tersebut berdiri. Sebagian besar wisdom dari Jawa.

Daya beli wisdom tidak kalah jauh dengan wisatawan asing. Hal tersebut terlihat dari tingginya omzet penjualan para pedagang di Pasar Seni Guwang dengan rata-rata Rp 700.000 hingga Rp 1 juta.
Pasar Seni Guwang masih tergolong baru dibandingkan Pasar Seni Sukawati yang sudah terlebih dahulu dikenal wisatawan. Karena itu diharapkan para pelaku pariwisata mau membawa tamunya berkunjung ke tempat itu.

Kendati banyak wisatawan yang datang, namun beberapa tahun terakhir keuntungan yang diperoleh pada musim libur, tidak setinggi musim libur tahun-tahun sebelumnya. Tapi diharapkan pada musim libur nasional maupun akhir pekan dapat memberikan berkah tersendiri bagi para pedagang pasar Seni Guwang ini.

Selain itu, berbelanja di Pasar Seni Guwang akan terasa lebih nyaman karena tempatnya yang luas. Selain harganya yang murah, dilihat dari lokasinya, pasar ini juga dekat dengan Denpasar.

Dana Promosi Turun, Persulit Gerak Pariwisata Bali

Penurunan dana promosi pariwisata Bali diprediksi mempersulit gerak pariwisata Bali. Dengan dana promosi yang terbatas, upaya Bali bersaing dengan kawasan pariwisata lain diluar negeri akan makin berat. Dana promosi pariwisata Pemprop Bali tahun 2009 sebesar Rp 7 milyar dan turun pada tahun 2010 menjadi Rp 4 milyar, patut disayangkan pelaku pariwisata di Bali. Walaupun Bali sudah dikenal dunia selayaknya Bali mesti tetap dipromosikan kepada calon wisatawan.

Sebagai salah satu kawasan wisata dunia, Bali mesti menghadapi persaingan dengan daerah tujuan wisata lain baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pesaing pariwisata di luar negeri di antaranya, Thailand, Singapura, Malaysia, termasuk kawasan pariwisata yang mulai berkembang seperti di Kamboja dan Vietnam.

Selain itu, Bali mesti gencar dipromosikan ke mancanegara. Oleh karena itu, kegiatan promosi mesti dirancang secara rutin. Jika Pemprop Bali menurunkan dana promosi tentunya akan sangat membatasi ruang gerak Disparda Bali dalam melakukan kegiatan promosi.

Pemerintah mesti tetap menganggarkan dana promosi. Sementara orang yang akan ikut dalam kegiatan promosi mesti dibatasi. Seperti promosi budaya mesti melibatkan tim penari dan orang-orang yang membidangi kebudayaan dan pariwisata Bali.

Dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan promosi ini dipersyaratkan mampu berbahasa asing. Paling beberapa di antara orang yang ikut terlibat dalam kegiatan promosi ini bisa menguasai bahasa yang menjadi daerah tujuan promosi.
Salah satu contoh promosi ke Jerman, anggota rombongan promosi harus ada yang bisa berbahasa Jerman. Jika tidak menguasai bahasa daerah pasar tujuan promosi tentunya rombongan promosi pariwisata ini tidak akan mampu menjelaskan materi promosi.

Sementara itu, HPI selaku asosiasi pariwisata di Bali siap dilibatkan dalam kegiatan promosi pemerintah. Ini termasuk memanfaatkan tenaga pramuwisata sesuai dengan keahlian bahasa yang dimiliki. Pemerintah bisa memanfaatkan anggota pramuwisata untuk dilibatkan dalam kegiatan promosi dengan menyesuaikan keahlian bahasa dengan negara tujuan promosi.

Dan jumlah peserta promosi ini mesti dibatasi. Ini untuk menghilangkan kesan promosi pemerintah dijadikan ajang jalan-jalan. Dengan peserta yang terbatas, mampu berbahasa asing dan mampu menyampaikan materi promosi diharapkan kegiatan promosi ke luar negeri menjadi efisien, efektif dan tepat sasaran.

Jelang Nyepi, Tarif Hotel di Bali Naik

Menjelang perayaan Nyepi, tarif sewa kamar hotel di Kota Denpasar khususnya di kawasan wisata Sanur mengalami kenaikan hingga 10 persen. Kenaikan tarif tersebut terjadi pada perayaan libur nasional seperti Nyepi, Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Meski jauh hari harga telah dinaikkan, namun sampai perayaan Nyepi nanti, kamar yang hotel-hotel sudah terisi penuh.

Diyakini kenaikan ini tidak akan mempengaruhi minat wisatawan ke Bali, karena Nyepi merupakan salah satu ritual keagamaan yang sangat menarik bagi wisatawan berkunjung ke Bali. Kenaikan harga sewa kamar hingga 10 persen itu, telah ditawarkan kepada wisatawan asing yang ingin menikmati suasana Nyepi di Bali sejak beberapa bulan lalu.

Sementara itu, terkait penutupan Bandara Ngurah Rai selama 24 jam, tidak mempengaruhi kedatangan wisatawan ke Bali. Bagi wisatawan yang merayakan Nyepi di Bali akan berdatangan sepekan menjelang perayaan, jadi hal itu tidak akan menghambat kedatangan mereka ke Bali.

Selain hotel berbintang, beberapa hotel kelas melati, vila yang tersebar di kawasan Sanur, Nusa Dua dan Kuta juga mengalami hal yang sama, bahkan tidak sedikit pengelola yang menolak pesanan. Perayaan Nyepi tahun ini ada peningkatan dibanding tahun lalu, di mana seminggu menjelang perayaan, beberapa kamar telah dipesan. Kondisi ini kemungkinan dikarenakan lomba pawai ogoh-ogoh yang diselenggarakan Pemkot Denpasar sehari menjelang Nyepi.

Tingginya harga sewa kamar hotel pada hari libur tertentu seperti saat ini menjadi hal biasa karena permintaan melonjak. Ini merupakan rezeki musim libur, jadi wajar pihak pengelola menaikkan harga, karena tingkat pemesanan yang sudah pasti tinggi.

Penggunaan Anggaran Promosi Pariwisata harus Dioptimalkan

Anggaran promosi pariwisata Bali tahun 2009 sebesar Rp 7 milyar turun menjadi menjadi Rp 4 milyar pada tahun 2010, tentu akan memberatkan Disparda Bali dalam merancang kegiatan promosi.

Melihat terbatasnya anggaran dana promosi pariwisata Bali, Disparda mesti memiliki strategi pemasaran yang jitu, sehingga promosi tepat sasaran. Dalam menggaet wisatawan mancanegara ke kawasan pariwisata termasuk Bali perlu didukung dana promosi pariwisata yang cukup. Jika diibaratkan, wisatawan bisa seperti ikan.

Untuk mendapatkan ikan yang besar, pemerintah perlu memiliki kail yang besar. Kail besar merupakan bagian dari kegiatan dan dana promosi yang besar. Pemerintah memerlukan dana promosi yang besar untuk menggaet wisatawan dalam jumlah yang besar.

Dana promosi yang terbatas, akan cukup menyulitkan Disparda Bali dalam menggaet wisatawan dalam jumlah yang besar pada tahun 2010 ini. Dana promosi yang terbatas ini mesti dimanfaatkan secara optimal, sehingga bisa menjangkau pasar pariwisata Bali.

Turunnya dana promosi pariwisata Bali bukan berarti kegiatan promosi Bali tidak akan optimal. Dengan dana yang terbatas, Pemprop Bali melalui Disparda Bali mesti menerapkan strategi promosi yang jitu. Ini diharapkan dengan dana promosi yang terbatas, diharapkan kegiatan promosi bisa tepat sasaran pasar yang ingin dijangkau. Dilihat dari promosi yang dilakukan pelaku pariwisata Bali baik BPW maupun pengelola hotel di Bali tidak akan efektif jika hanya melalui website. Sama halnya pemerintah tidak akan optimal jika pemerintah hanya mengandalkan promosi pariwisata Bali melalui TV asing.

Pemerintah wajib tetap berpromosi langsung ke daerah tujuan pasar. Ini berdasarkan pertimbangan, calon wisatawan sebagai buyer termasuk biro perjalanan wisata di Bali sebagai seller akan mendapatkan keyakinan jika bertemu langsung dalam rangkaian kegiatan promosi. Kegiatan promosi langsung ini tentunya melalui mediasi pemerintah melalui kegiatan promosi ke luar negeri. Di sisi lain, buyer di luar negeri bisa mendapatkan informasi pariwisata Bali yang lebih riil ketika pelaku pariwisata dan pemerintah Bali bisa melakukan promosi langsung ke daerah tujuan pasar.

Salah satu contoh wisatawan Jepang dan wisatawan dari negara lain tidak akan bisa berkunjung ke Bali jika tidak kenal langsung dengan pelaku pariwisata Bali. Calon wisatawan di antaranya bisa bertemu dengan pelaku pariwisata Bali melalui kegiatan promosi langsung yang dibantu pemerintah Bali. Diharapkan Pemprop Bali melalui Disparda Bali tidak melepas keikutsertaannya dalam event berskala internasional yang bisa menjaring wisatawan berkunjung ke Bali.

Event besar ini di antaranya NATAS Singapura, ITB Berlin termasuk MATA Fair di Malaysia. Sangat disayangkan jika Disparda Bali tidak ikut dalam event berskala internasional yang mempertemukan seller dan buyer di seluruh dunia itu.